Pages

Showing posts with label raymond laia. Show all posts
Showing posts with label raymond laia. Show all posts

24 February 2009

... 2009 DAN JALAN PANJANG,



Caritas Sibolga (Feb'09)
Kembali, perjalanan panjang CKS (Caritas Keuskupan Sibolga-red) diwarnai sejuknya kata selamat datang dan selamat jalan. Jumat sore (13/02/09) sekira pukul 19.30 Mega Hill, sebuah compound para ekspatriat yang berkarya di Nias, menjadi saksi sebuah perjalanan bagi seluruh manajemen dan staff CKS. Ms. Barbara Dettori (Caritas Italiana) dan Ms. Silvia Holzer (Caritas Austria) menggelar acara perpisahan untuk berakhirnya masa kerjanya di Nias. setelah hampir 4 tahun berlelah, berbagi dan berkarya bersama lahirnya CKS, kembali sebuah perjalanan menanti ke-duanya-perjalanan yang akan terus diwarnai karya dan pengabdian bagi kemanusiaan.

Tak jauh berbeda halnya dengan pengabdian dan dedikasi Fr. Raymond Laia, OFMCap. (Deputy Direktur CKS) yang juga akan memulai perjalanan dengan hari-hari penuh pengabdian ke depannya setelah menyelesaikan tugas pengabdian di CKS-walaupun sebenarnya keberadaan CKS akan selalu melekat dengan sosok Bapa yang satu ini.

Selamat jalan bagi mereka yang pergi dan meneruskan babak perjalanan panjang berikutnya, dan selamat datang pula bagi yang akan meneruskan babak-babak baru perjalanannya di Caritas Sibolga. Proses yang terbilang tidak terlalu singkat dari kuartal terakhir 2008 ke 2009 (kurun waktu tersebut, beberapa staff CKS juga telah berganti dan memulai perjalanannya masing-masing-Jason, Erix, Aster dll), masa transisi yang cukup panjang juga ketika akhirnya Fr. Mikael To, Pr tiba di CKS yang sekarang bertugas mengawal cita-cita lahirnya Caritas Keuskupan Sibolga bersama dengan Mr. Matteo Luigi Amigoni dan Ms. Stefania Cattaneo (Caritas Italiana) dan di bulan maret yang tak jauh lagi Mr. Jean Cyrill (Caritas Austria) akan bergabung, ketiganya sebagai donor representatives dan juga management consultant bagi pembangunan kapasitas CKS dalam menjawab tantangan-tantangan karya kemanusiaan ke depannya.


Barangkali setiap perjalanan memang benar, bukan cerita yang benar-benar selesai di kaki langit. layaknya puluhan bab buku kehidupan yang selalu ingin menjemput akhir tapi ternyata tak pernah bertemu takdir. tetapi kita selalu tahu setiap perjalanan memang selalu mengundang kenangan untuk datang menghampiri. Kurang lebih nuansa seperti itulah yang tersirat dari lagu "kemesraan" yang tak jua lelah mengiring setiap acara perpisahan, getarnya begitu terasa pada saat penyerahan piagam penghargaan kepada Fr. Raymond Laia dan Ms. Barbara atas pengabdian dan dedikasinya bagi Gereja dan masyarakat (18/02/09) di aula kantor CKS, Jl. JP Vallon Ujung, Sifalaete-Nias

Salam sejuk bagi yang pergi dan juga bagi yang datang. God bless all (ky09)

09 December 2008

Hilimbaruzö Project: Mission Impossible

Mengandalkan Kekuatan Partisipasi Masyarakat

Puncak Gunung.
Proyek Hilimbaruzö terletak pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut

Anda ditugaskan membangun 123 unit rumah di Hilimbaruzö. Letak nya di puncak gunung. Tanpa jalan beraspal dan kendaraan pengangkut. Karena 8,7 kilometer jalan yang tersedia hanya jalan setapak. Harus melintas sungai. Diikuti tanjakan ekstrim. Rawan longsor dan banjir. Satu-satu nya harapan mengangkut material cuma tenaga manusia. Mustahil bukan (?)


HILIMBARUZÖ berarti pohon besar di puncak gunung, itu nama desa di kecamatan Gomo, Nias Selatan (Nisel). Berada 800 meter dari permukaan laut. Sewaktu diguncang gempa bumi pada 29 Maret 2005, desa itu rusak parah. Letak yang terisolir, membuat Hilimbaruzö luput dari perhatian. Tak satupun organisasi kemanusiaan yang mengirim bantuan ke sana.


Tiga tahun lalu Caritas memulai program di Hilimbaruzö. Sebuah program livelihood (peningkatan taraf hidup) melalui proyek rekonstruksi. Program itu meliputi pembukaan jalan, pembangunan rumah dan penyediaan sarana air bersih. Tujuan nya membantu korban gempa dan masyarakat miskin.


Caritas memulai dengan proyek jalan pada Mei 2006. Punggung gunung Olayama dirambas menjadi jalan sepanjang 8.7 km. Tapi proyek ini terhenti karena faktor geologi (tanah). Struktur tanah yang labil, menyebabkan beberapa ruas jalan ambruk. Caritas memutuskan penelitian ulang dengan bantuan Catholic Relief Services (CRS). Ditengah proses penelitian dan persiapan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nisel berinisiatif mengambil alih. Caritas mengalah. Pada Desember 2007, proses pembangunan jalan resmi berpindah dari Caritas kepada Pemkab Nisel.


Proyek dilanjutkan dengan pembangunan rumah. Situasi bertambah sulit, karena jalan yang seharusnya mempermudah distribusi material, urung selesai. Hanya ada jalan tanah berbatu cadas. Belum bisa dilintasi kendaraan. Satu-satu nya peluang tersedia hanya memanfaatkan tenaga manusia. Material harus dipanggul sejauh 12 km. Tapi jelas, ini ide tak lazim.


Caritas memutuskan mendiskusikan ide tak lazim itu dengan masyarakat. Florentino Sarmento, 50 tahun, staff senior CRS yang mendampingi proyek Hilimbaruzö, menjadi ujung-tombak komunikasi. Dia berulang-ulang mengunjungi Hilimbaruzö dan berdialog dengan masyarakat. Masyarakat setuju. Tapi Florentino masih ragu.”Mampukah masyarakat melakukan pekerjaan tersebut?” tulisnya dalam artikel Rekonstruksi dan Rehabilitasi Desa Hilimbaruzö (2008).


Keraguan Florentino terjawab. Pada Agustus 2008, 20 unit rumah untuk fase I, berhasil dibangun. Lebih dari 6000 orang bahu-membahu, memanggul material seberat 124.000 kg (124 ton). Kejadian itu mirip mitologi Jawa tentang Bandung Bondowoso. Raja yang jatuh cinta kepada gadis cantik, Roro Jongrang dan bersedia membangun 1000 candi dalam waktu satu malam.


Tapi Hilimbaruzö bukan mitologi. Tommy Lumbantoruan, 32 tahun, civil enginering (ahli konstruksi) CRS angkat bicara. Dia membuka rahasia dibalik keberhasilan itu. Tommy menyebut dua faktor kunci keberhasilan proyek ini, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi sistem, kerjasama team dan pemilihan metodologi. Dan Faktor eksternal adalah dukungan dan hubungan baik dengan masyarakat.

“Kita membangun rasa kepemilikan (sense of belonging). Proyek ini berhasil bukan karena usaha satu orang, tapi semua orang…,” ungkap Tommy menjelaskan rahasia dibalik solidnya team Hilimbaruzö.


Faktor lain adalah metodologi. Rumah didesain dengan konsep baja ringan (LGS) sehingga bisa cepat dibangun. Setelah pondasi selesai, hanya butuh seminggu, rumah sudah berdiri sempurna.” Per-minggunya kita bisa merealisasikan 10 persen dari progress actual,” imbuh Tommy.


Faktor kedua adalah dukungan dari masyarakat. ”Kita melibatkan fadus, fades (fasilitator dusun, fasilitator desa - red) secara integral dalam proyek kita,”lanjut Tommy. Menurut Tommy, para fasilitator ini menjadi perekat antara masyarakat dengan Caritas. Setiap permasalahan dibicarakan melalui forum rutin, itu yang menyebabkan mobilisasi masa bisa dilakukan secara kolosal.


Saat ini, proyek Hilimbaruzö memasuki fase II. Pembangunan pondasi sudah mencapai 100 persen. Diperkirakan pertengahan Februari 2009, seluruh proyek akan selesai. Artinya, proyek ini lebih cepat empat bulan dari jadwal semula. Dan itu terjadi karena kekuatan partisipasi masyarakat. ***

06 December 2008

Mengutamakan yang lemah dan miskin


Mengutamakan yang mereka yang lemah dan miskin, ini adalah dalil yang dipegang Gereja dalam pelayanannya. Caritas sebagai lembaga sosial Gereja mewujudkan hal ini dalam karya-karyanya, tak terkecuali proyek pembangunan rumah bagi korban gempa. Sampai sekarang semua proyek perumahan yang dijalankan oleh Caritas Sibolga, selalu mengikutkan kaum lemah dan miskin. Selain kriteria korban gempa, Caritas memasukkan juga dalam kriteria untuk menyeleksi calon penerima rumah: janda, duda, yatim-piatu, dan miskin (tinggal dalam gubuk/rumah yang tak layak huni).

Hal ini misalnya telah diterapkan di proyek pembangunan rumah di Desa Hilimbaruzo, Kec. Gomo, Kab. Nias Selatan. Dalam foto nampak seorang penerima rumah yang miskin dan tua menandatangani kontrak pembangunan rumah dengan membubuhkan cap jari.
Posted by Picasa

25 November 2008

Menjamin Keberlanjutan Caritas

Wawancara dengan Wakil Direktur CKS, Pastor Raymond OFM. Cap


CARITAS SIBOLGA - Georg Matuschkowitz (Caritas Austria) menyebut Pastor Raymond Laia, OFM. Cap sebagai salah satu orang yang berkontribusi besar untuk CKS. Selama tiga tahun, Pastor Raymond (PR) mengawal program CKS melewati sejumlah tantangan. Kepada Erix Hutasoit (EH), Pastor Raymond bercerita tentang pengalaman itu. Demikian ringkasannya.

EH : Setelah tiga tahun, apa yang sudah dicapai CKS?

PR:Ada dua, Hard (keras) dan Soft (lembut). Secara proyek, apa yang sudah CKS kerjakan itu sudah luar biasa. Seperti proyek ERHAM. Desain nya mendapat pujian internasional. Saat ini proyek Hilimbaruzo. Itu untuk hard nya. Tapi bagi saya, kesuksesan lebih pada segi soft nya. Sumber daya manusia. Dengan tenaga-tenaga biasa kita bisa mencapai level tertentu, itu membuat kita bisa berbicara di forum-forum internasional. Dan itu dimulai dari pengembangan masyarakat yang mau kita jalanani secara kosisten dengan Community Managed (CM) approach.

EH : Yang membuat itu bisa tercapai ?

PR:Itu tergantung strategi kita. Pada awal CKS berdiri, kita merekrut tenaga profesional. Tapi mereka gagal dilapangan. Akhirnya kita merubah strategi, kita tidak merekrut lagi tenaga profesional tapi lebih menekankan pengembangan sumber daya lokal. Kita berhasil dengan itu.

EH: Tantangan terberat CKS?

PR:Semua adalah tantangan. Misalnya logistik. Apa yang kita pahami soal logistik? Ternyata itu bidang yang sangat rumit, termasuk proses pengaturan barang (distribusi), penyimpanan, permintaan dan analisa permintaan. Bayangkan lah, kita pernah membelanjakan uang sebesar satu miliar rupiah dalam beberapa bulan. Bagaimana kita mengelola itu. Contoh lain, ketika kita memindahkan kalsi plank untuk ERHAM, kita tidak bisa memindahkannya dari darat harus dari laut, tapi tidak bisa mendarat di Sirombu. Itu masih contoh logistik..

EH: Soal Leadership?

PR: Saya harus mengakui bahwa gaya kepemimpinan selama ini cukup lunak, jika saya bandingkan dengan organisasi lain. Kita sangat fleksibel dengan mitra-mitra dan staff kita disini.

EH : Apa yang sudah stabil di kantor CKS ini ?

PR:Keuangan sudah ada sistemnya. Tapi masih butuh improvement (peningkatan). Program DRR kita sudah solid, kita sudah sampai fase replikasi.

EH : Soal keberlanjutan ?

PR: Organisasi lain berpikir tentang keberlanjutan selalu soal uang. Menurut saya bukan uang. Tapi pada tiga hal. Yaitu, pertama, memiliki proyek yang berkualitas Kedua, mempunyai SDM yang memadai untuk itu. Ketiga, punya Running System (sistem kerja). Dengan ketiga itu, Patner kita pasti mendukung.

EH:Keinginan pastor yang belum terwujud ?

PR:Keinginan saya yang belum terwujud itu mempunyai proyek berkualitas. Saya khawatir kalau ada proyek kita yang indah diatas kertas tapi tidak pada praktek.

EH: Jika kelak berhenti, perubahan apa yang pastor harapkan?

PR: Justru saya sendang mempersiapkan diri untuk berhenti, akhir 2009 saya berharap sudah pergi. Jaminan untuk itu seperti tiga hal yang saya sebut diatas tadi.

EH : Jadi Pastor ingin memastikan keberlanjutan Caritas ?

PR : Itu persis...

Ringkasan Sambutan Georg Matuschkowitz *)

CARITAS SIBOLGA - SAYA tidak tahu sebelumnya, kalau saya akan diminta memberikan kesan tentang Caritas Keuskupan Sibolga. Saya baru tahu ketika tiba di Medan. Dalam perjalanan dari Medan ke Gunungsitoli, saya memikirkan apa yang hendak saya katakan. Kondisi perjalanan ke Gunungsitoli mirip perjalanan CKS. Begitu sulit, banyak halangan dan ketidakpastian. Kita tidak tahu apakah pesawat yang kita tumpangi, akan tiba tepat waktu, terlambat atau malah harus kembali karena cuaca buruk. Seperti itu pula gambaran kondisi CKS .

Ini kali ketiga saya diminta berbicara tentang CKS. Saya melihat perubahan dan kemajuan sejak pertama kali tiba di Nias (2005). Saya masih ingat ketika pertama kali kami ingin bekerja sama di sini. Awalnya kami bekerjasama dengan Keuskupan. Saat itu CKS baru lahir. Kami berpikir bahwa CKS yang baru saja dibentuk, dengan kondisi yang sulit saat itu, tidak mungkin sanggup untuk mengelola dana lebih dari 500 ribu Euro. Tapi kini, CKS membuktikan sanggup mengelola dana yang jauh lebih besar.

Saya salah seorang yang mengikuti perjalanan CKS dari awal. Saya melihat CKS bergerak, selalu melangkah lebih baik, meskipun seringkali dihadang kondisi yang tidak mendukung. CKS yang sekarang, dengan segala proyek yang telah berhasil diselesaikan, dan dengan kantor nya yang baru, bukanlah titik puncak, tetapi merupakan langkah awal untuk berkembang dan semakin maju.

Ini tentunya, tidak lepas hubungan baik antara CKS dengan para donor. Seperti CRS, Caritas Italy yang membantu mengembangkan CKS. Bagi kami di Caritas Austria, ada sedikit perbedaan pandangan dalam konsep kemitraan dalam pelaksanaan proyek, tetapi yang terjadi dengan CKS bukan demikian. Bukan kepentingan siapa yang didahulukan, tetapi komunikasi dan penyamaan persepsi. Ini salah satu inti kekuatan CKS disamping keterbukaan (transparansi), baik dalam membuka kelemahan maupun dalam pelaporan kepada donor.

Walau demikian, ini semua hasil kerja keras dan kebersamaan semua orang yang ada di CKS. Tetapi izinkan saya memberikan penghargaan khusus kepada beberapa orang. Salah satu nya kepada Pastor Raymond. Tanpa perjuangan beliau, semua yang kita lihat sekarang, tidak akan ada. Kemudian kepada Pastor Rantinus yang sejak awal memberikan dukungan dan mengajak kami untuk berkarya di Nias ini, dan juga kepada Pastor Barnabas, yang saat itu menjabat sebagai Administrator Keuskupan yang bersemangat berkata, “Mari kita mulai!”

Saya juga ingin mengucapkan selamat datang kepada Pastor Mikael yang baru saja menjabat sebagai Direktur Caritas Sibolga, yang saya yakini akan membawa kemajuan besar untuk Caritas Sibolga, yang mewarisi hasil-hasil kerja keras pendahulu-pendahulunya


*) Georg Matuschkowitz, Desk Tsunami Officer Caritas Austria.